Ditampakkan kepada Rosulullah ﷺ sekelompok umat dalam jumlah yang besar maka dikatakan kepada beliau bahwa itu adalah umat beliau dan di antara mereka ada tujuh puluh ribu orang yang masuk surga tanpa hisab tanpa azab. Kemudian beliau menyebutkan ciri-cirinya:
هم الذين لا يسترقون ولا يكتوون ولا يتطيرون وعلى ربهم يتوكلون
"Mereka adalah orang-orang yang tidak meminta diruqyah, tidak meminta diobati dengan key (besi panas), tidak bertathoyyur, dan hanya kepada Robbnya mereka bertawakkal." (HR. Al-Bukhori 5420 dan Muslim 200 dari Ibnu Abbas)
Ruqyah artinya jampi-jampi. Ruqyah ada yang syar'i sesuai tuntunan syariat dan ada yang tidak syar'i menyelisihi syariat karena mengandung unsur syirik dan bid'ah.
Al-Imam Jalaluddin As-Suyuthi Asy-Syafii berkata, "Para Ulama berijma' (sepakat) dibolehkannya ruqyah apabila memenuhi tiga syarat:
(1). Dengan kalamullah (Al-Qur'an) atau dengan nama-nama Allah dan sifat-sifat-Nya.
(2). Dengan bahasa Arab yang diketahui maknanya (seperti wirid-wirid yang diajarkan Nabi ﷺ).
(3). Bacaan ruqyah tidak diyakini dapat berpengaruh dengan sendirinya akan tetapi dengan izin Allah." (Syarh Sunan Ibnu Majah 1/249)
Adapun yang dimaksud tidak meminta diruqyah yaitu seseorang tidak minta orang lain untuk meruqyah dirinya. Perbuatan meminta ruqyah semacam itu dimakruhkan oleh para Ulama karena mengurangi tawakkal.
Sedangkan meminta orang untuk meruqyah orang yang lainnya maka perbuatan seperti ini diperbolehkan bahkan termasuk tolong-menolong dalam kebaikan sebagaimana yang disebutkan dalam hadits.
Tidak meminta diobati dengan key (besi panas yang ditempel pada anggota tubuh yang terkena penyakit). Ini juga cara pengobatan yang pada asalnya makruh meski diizinkan oleh syariat.
Syaikhul Islam Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah berkata, "Hadits-hadits tentang mengobati sakit dengan besi panas ada empat macam: pertama, melakukannya, kedua, tidak menyukainya, ketiga, memuji orang yang meninggalkannya, keempat, melarangnya. Dan alhamdulillah semua itu tidak saling kontradiksi, yang pertama menunjukkan kebolehannya, yang kedua tidak menunjukkan dilarang, yang ketiga menunjukkan bila ditinggalkan lebih utama, yang keempat menunjukkan kemakruhannya." (Zadul Ma'ad 4/65-66)
Tidak bertathoyyur yaitu menganggap sial karena melihat burung terbang ke kiri atau hoki bila terbang ke kanan, hari sial, bulan sial, melihat ular pertanda sial, melihat kupu-kupu di halaman rumah dan semisalnya. Semua ini tradisi masyarakat jahiliyah yang merusak aqidah.
Orang yang melakukan tathoyyur ketawakkalannya hilang sehingga dia buruk sangka kepada Allah dan baik sangka kepada selain-Nya. Dia merasa cemas dan takut ketika hendak melakukan sesuatu lantaran melihat gelagat yang tidak ada hubungan sebab akibat secara syariat maupun nalar.
Dari Abdullah bin Mas’ud rodhiyallahu ‘anhu, bahwa Rosulullah ﷺ bersabda:
الطيرة شرك الطيرة شرك
“At-Thiyaroh (beranggapan sial) adalah kesyirikan, At-Thiyaroh adalah kesyirikan." Ibnu Mas'ud berkata, "Tak ada seorangpun di antara kita (kecuali pernah berpikiran seperti itu) akan tetapi Allah menghilangkannya dengan bertawakkal.” (HR. Abu Dawud 3910, At-Tirmidzi 1614 beliau berkata "Hasan Shohih")
Kepada Robbnya mereka bertawakkal. Al-Hafidzh Ibnu Rojab Al-Hanbali menjelaskan hakikat tawakkal, "Jujurnya hati dalam bersandar kepada Allah demi meraih maslahat dan mencegah mudhorot menyangkut urusan dunia maupun akhirat." (Jami'ul Ulum wal Hikam hal. 722)
Tawakkal adalah fondasi tauhid dan pokok keimanan. Allah menjadikan tawakkal kepada-Nya sebagai syarat sah keimanan dan keimanan tidak akan terealisir kecuali dengan tawakkal. Maka kuat lemahnya tawakkal seseorang berbanding lurus dengan kuat dan lemahnya iman.
Kendati demikian, bertawakkal tidak berarti meniadakan ikhtiar (sebab/usaha) selama ikhtiar yang ditempuhnya itu tidak menyelisihi syariat. Oleh karena itu seseorang bertanya kepada Rosulullah ﷺ , “Wahai Rosulullah, apakah saya ikat unta ini lalu bertawakkal ataukah saya biarkan saja kemudian bertawakkal? Maka Rosulullah ﷺ berkata, “Ikatlah dulu lalu bertawakkallah kepada Allah.” (HR. At-Tirmidzi no. 2517 dihasankan Syaikh Al-Albani "Takhrij Al-Musykilah" 22)
Demikian sifat orang-orang yang masuk surga tanpa hisab tanpa azab. Mereka adalah orang-orang yang merealisasikan tauhid dengan bertawakkal. Tidak minta diruqyah, tidak minta dikey, tidak bertathoyyur yang ketiga perkara itu memalingkan hati kepada makhluk dalam meraih maslahat atau menolak mudhorot.
Jumlah orang-orang yang memperoleh keutamaan tersebut tidaklah banyak yaitu tujuh puluh ribu orang. Akan tetapi di dalam riwayat lain Nabi ﷺ meminta kepada Allah agar ditambah sehingga setiap seribu orang dari tujuh puluh ribu itu membawa tujuh puluh ribu orang lagi, wa billaahit tawfiq.
Fikri Abul Hasan
0 comments:
Posting Komentar