Allah memerintahkan tawakkal dalam banyak ayat dan menggandengkannya dengan keimanan dan kecukupan.
Allah berfirman:
ومن يتوكل على الله فهو حسبه
"Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah maka Dia akan memberinya kecukupan." (Ath-Tholaq: 3)
Allah juga mengingatkan:
وعلى الله فتوكلوا إن كنتم مؤمنين
“Dan bertawakkallah kalian hanya kepada Allah jika kalian benar-benar orang yang beriman.” (Al-Maidah: 23)
Esensi tawakkal dijelaskan maknanya oleh para ulama antara lain Al-Hafidzh Ibnu Rojab Al-Hanbali:
صدق اعتماد القلب على اللّه تعالى في استجلاب المصالح ودفع المضار من أمور الدنيا والآخرة
"Jujurnya hati dalam bersandar kepada Allah ta'ala demi meraih maslahat dan mencegah mudhorot menyangkut urusan dunia dan akhirat." (Jami'ul Ulum wal Hikam hal. 722)
Tawakkal merupakan pondasi tauhid dan pokok keimanan. Allah menjadikan tawakkal kepada-Nya sebagai syarat sah keimanan dan keimanan tidak akan terealisasi kecuali dengan tawakkal. Sehingga kuat lemahnya tawakkal berbanding lurus dengan kuat dan lemahnya iman.
Kendati demikian, bertawakkal jangan diasumsikan meniadakan ikhtiar (sebab/usaha). Selama ikhtiar yang ditempuhnya itu tidak berlebih-lebihan atau menyelisihi syariat.
Ada orang yang bertanya kepada Rosulullah ﷺ , “Wahai Rosulullah, apakah saya ikat unta ini lalu bertawakkal ataukah saya biarkan saja kemudian bertawakkal? Maka Rosulullah ﷺ berkata, “Ikatlah dulu lalu bertawakkallah kepada Allah.” (HR. At-Tirmidzi no. 2517 dihasankan Syaikh Al-Albani "Takhrij Al-Musykilah" 22)
Jelas hadits ini menunjukkan adanya sebab atau ikhtiar yang diusahakan dalam bertawakkal, karenanya para ulama menggolongkan ikhtiar bagian dari tawakkal.
Hal ini sebagaimana yang dijelaskan oleh Al-Imam Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah,
"Orang yang menyandarkan hatinya kepada Allah dalam bertawakkal haruslah diikuti dengan menempuh sebab-sebab, karena jika tidak maka dia telah meniadakan hikmah dan syariat. Oleh karena itu, seseorang jangan menjadikan kelemahannya sebagai tawakkal dan tawakkalnya sebagai kelemahan." (Zadul Ma'ad 4/15)
Selama seseorang sudah berikhtiar maka hanya Allah yang menjadi sandaran hatinya bukan bergantung kepada sebab yang dijalaninya.
Contoh konkretnya seseorang berobat kepada dokter maka yang menjadi sandaran hatinya hanyalah Allah, bukan bersandar kepada obat karena hanya Allah yang kuasa menyembuhkan penyakit. Inilah hakikat tawakkal yang sesungguhnya.
Allah mencukupkan siapa saja yang menyandarkan hati kepada-Nya dan menyerahkan urusan kepada siapa saja yang bersandar kepada selain-Nya.
Semoga Allah memudahkan hati kita untuk benar-benar jujur dalam bertawakkal kepada-Nya.
Fikri Abul Hasan
0 comments:
Posting Komentar