Allah ta'ala mengingatkan kita di dalam firman-Nya tentang bahaya syirik:
إن الله لا يغفر أن يشرك به ويغفر ما دون ذلك لمن يشاء
"Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik dan Dia mengampuni segala dosa selain syirik, bagi siapa yang dikehendaki-Nya." (An-Nisa': 48)
Al-Hafidzh Ibnu Katsir Asy-Syafii menjelaskan, "Dia Allah tidak mengampuni seorang hamba yang bertemu dengan-Nya sebagai seorang musyrik. "Dan Dia mengampuni segala dosa selain syirik, bagi siapa yang dikehendaki-Nya", yakni dosa-dosa lainnya bila Dia kehendaki." (Tafsir Ibnu Katsir 1/509)
Al-'Allamah Abdurrohman bin Hasan berkata, "Ayat ini jelas menunjukkan bahwa syirik dosa paling besar karena Allah ta'ala mengabarkan bahwa Dia tidak mengampuni pelakunya apabila dia tidak bertaubat.
Adapun dosa-dosa selain syirik maka dia di bawah kehendak Allah, jika Dia berkehendak maka Dia mengampuni pelakunya ketika bertemu dengan-Nya di akhirat, dan jika Dia berkehendak maka Dia akan mengazabnya." (Fat-hul Majid hal. 65)
Pakar bahasa Arab menjelaskan syirik secara bahasa artinya menunjukkan keikutsertaan atau menjadikan satu pihak menyertai pihak yang lain. Sedangkan secara istilah syariat syirik artinya menjadikan sekutu atau tandingan bagi Allah dalam rububiyyah-Nya, uluhiyyah-Nya, dan al-asma' was shifat.
Para Ulama menyebutkan syirik ada dua macam:
(1). Syirik akbar (syirik besar) yaitu seseorang menjadikan sekutu bagi Allah dalam menghambakan diri kepada-Nya. Dia meminta, berharap, takut, mencintai sekutu tersebut sebagaimana sikap dia terhadap Allah. Atau memalingkan salah satu jenis ibadah kepada sekutu tersebut. Perbuatan syirik ini yang pelakunya diharomkan baginya surga dan tempatnya di neraka.
(2). Syirik ashghor (syirik kecil) yaitu semua ucapan dan perbuatan yang mengantarkan orang kepada perbuatan syirik akbar di atas. Seperti riya' (beribadah kepada Allah niatnya mencari pujian), bersumpah dengan selain nama Allah (sumpah pocong, demi Rosulullah ﷺ), tidak ikhlas dalam beramal.
Rosulullah ﷺ mengingatkan, "Sungguh yang paling aku takutkan menimpa kalian adalah syirik kecil." Beliau ditanya apa syirik kecil itu wahai Rosulullah, maka beliau bersabda, "Riya'." (HR. Ahmad 24350, Al-Baihaqi 6831 dishohihkan Syaikh Nashir "Silsilah Ash-Shohihah" 951)
Ada silang pendapat di antara Ulama apakah syirik yang dimaksud ayat di atas itu mencakup syirik besar dan syirik kecil ataukah syirik besar saja?
Sebagian Ulama berpendapat ayat tersebut berlaku umum meliputi syirik besar dan syirik kecil. Alasannya karena penyebutan redaksi syirik dengan bentuk nakiroh (indefinitif) dalam konteks nafi (peniadaan) itu memberi faidah umum. Pendapat ini yang dipilih Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan banyak Ulama lainnya.
Sedangkan menurut Ulama lain, syirik dalam ayat tersebut hanya berlaku bagi syirik akbar saja tidak yang lain. Meski redaksi syiriknya umum akan tetapi 'umuuman muroodan bihil khusuush yakni umum tetapi yang dimaukan bermakna khusus.
Kendati demikian, para Ulama sepakat syirik yang diharomkan darinya surga dan pelakunya kekal di neraka hanyalah syirik akbar.
Walhasil, orang yang merealisasikan tauhid akan takut dari segala macam perbuatan syirik dan dia berusaha menjauhi segala sarana yang dapat menjerumuskan dirinya kepada kesyirikan.
Karena syirik menafikan tauhid, merendahkan hak Allah, menggugurkan pahala, diharomkan baginya surga, tempat kembalinya di neraka. Maka kebahagiaan yang hakiki tidak bisa diraih kecuali bagi siapa saja memurnikan tauhidnya dari segala bentuk kemusyrikan.
Fikri Abul Hasan
0 comments:
Posting Komentar