Salah satu kunci keberhasilan menuntut ilmu adalah kuatnya kesabaran dalam berinteraksi dengan guru. Hal ini disebutkan dalam sebuah bait syair yang populer:
"Bersabarlah atas pahitnya perangai kasar sang guru, karena melekatnya ilmu senantiasa menyertainya.
Barangsiapa belum mengecap pahitnya belajar walau sesaat, dia akan meneguk hinanya kebodohan sepanjang hidupnya."
Ini nasihat sekaligus adab bagi para penuntut ilmu agar memiliki kesungguhan yang besar dan kesabaran yang kuat sebagai modal utama dalam belajar karena berkahnya ilmu ada bersama keduanya.
Tidak semestinya seorang pembelajar mudah kecewa, gampang tersinggung, apalagi frustasi lantaran mendapat perilaku yang kurang nyaman dari sang guru. Karena perangai seperti itu akan menghalangi dirinya memperoleh faidah ilmu dan banyak keutamaan.
Dahulu para Salaf belajar kepada guru-guru yang wataknya beraneka ragam. Yang mungkin saja kalau kita dibawa kepada masa itu pasti ogah belajar atau boleh jadi lebih memilih kejahilan.
Ada guru yang kebiasaannya suka meludah kecil di majelis sehingga mengenai wajah-wajah yang hadir. Ada guru yang sangat selektif menerima murid siapa yang tidak dikenal langsung diusir. Ada guru yang suka keheningan di majelis jika terdengar suara sedikit majelis langsung bubar dan masih banyak lagi guru-guru dengan berbagai macam perangai yang menunjukkan sisi kemanusiaannya.
Kendati demikian, para pembelajar yang hadir di majelis mereka para ulama berusaha untuk bersabar, rela diludahi dan sudi membisu demi memperoleh ilmu yang dituntutnya.
Tidak lantas tersinggung atau kapok, lalu mengharomkan dirinya untuk mendatangi majelis sang guru yang itu menunjukkan lemahnya tekad dan sedikitnya kesabaran.
Syaikh Al-'Allamah Muqbil bin Hadi Al-Wadi'i mengingatkan para pembelajar:
يا أبنائي لو كان العلم يسقى في كأس لأسقيتموه ولكن لا يتحصّل عليه إلا بكد وحك الركب وقد قال يحيى بن أبي كثير لولده عبد الله : لا يستطاع العلم براحة الجسد
"Wahai anak-anakku, seandainya ilmu bisa dituang ke dalam gelas niscaya akan kutuangkan untuk kalian. Akan tetapi ilmu ini mustahil diperoleh kecuali dengan kesungguhan dan pengorbanan. Yahya bin Abi Katsir berkata kepada puteranya Abdullah, "Sungguh ilmu ini tidak akan dicapai dengan badan yang santai." (Nubdzah Mukhtashoroh hal. 44)
Semoga Allah menganugerahkan kepada kita kesungguhan dan kesabaran serta keistiqomahan dalam tholabul ilmi, aamiin.
Fikri Abul Hasan
0 comments:
Posting Komentar