Senin, 07 Juni 2021

Waspada Perusak-Perusak Ilmu

Di antara perusak-perusak ilmu yang diperingatkan oleh para ulama dan harus dijauhi oleh para tholabatul 'ilmi adalah sebagai berikut:

(1). Kelalaian.

Lalai menjadi penghalang terbesar bagi para pembelajar untuk memahami ilmu yang dipelajarinya. 

Allah berfirman,

ولا تكن من الغافلين

“Janganlah engkau termasuk orang-orang yang lalai.” (Al-A’rof: 205)

Lawannya lalai adalah kesungguhan dan kesabaran. Dari Abu Huroiroh bahwa Rosulullah ﷺ mengingatkan, “Bersemangatlah dalam meraih hal bermanfaat bagimu dan minta tolonglah pada Allah dan jangan merasa lemah.” (HR. Muslim 2664)

Lihat bagaimana kesungguhan dan kesabaran para ulama dalam tholabul 'ilmi. Di antara mereka ada yang mempelajari kitab "Shohih Al-Bukhari" hanya beberapa malam seperti Al-Khothib Al-Baghdadi.

Ada yang menghabiskan waktunya dalam sehari untuk mempelajari 12 bab ilmu yang berlainan seperti Al-Imam An-Nawawi. 

Berkat kesungguhan dan kesabaran Allah karuniakan baiknya pemahaman dan kesholihan dalam beramal. Sebab itu Yahya bin Abi Katsir mengingatkan puteranya, "Sungguh ilmu ini tidak akan dicapai dengan badan yang santai." 

(2). Ujub.

Ujub artinya kagum terhadap dirinya sendiri lantaran punya kelebihan. Ujub termasuk penyakit hati yang sering tidak disadari oleh penderitanya. 

Al-Imam Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah berkata, “Tidak ada suatu perkara yang lebih merusak amalan daripada ujub dan berlebihan memandang diri berjasa.” (Al-Fawa’id hal. 147)

Pengaruh ujub ini sangat berbahaya karena merusak keikhlasan akibatnya ilmu yang dipelajari tidak barokah. Sedangkan lawan dari ujub adalah tawadhu' dan menyadari aibnya diri.

(3). Kesombongan.

Sombong didefinisikan oleh Nabi ﷺ yaitu menolak kebenaran dan menghinakan manusia.  

Orang yang sombong dengan ilmunya menjadikan dirinya suka berjidal (berdebat) dalam hal yang tidak perlu. Dia mencari-cari dalil untuk mendapat pembenaran, menolak kebenaran, serta melontarkan tuduhan.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata, “Perusak ilmu adalah kesombongan.” (Ar-Rodd ‘ala Asy-Syadzili hlm. 207)

Lawannya sombong adalah khudhu' yaitu ketundukan kepada kebenaran.

(4). Mengandalkan Logika.

Beragama dengan otak atik otak ini juga termasuk perusak yang sangat berbahaya. Sehingga seseorang lancang mendahului Allah dan Rosul-Nya ﷺ atau lebih menuruti tradisi daripada mengikuti petunjuk dalil Al-Qur'an was Sunnah dengan bimbingan para salaf. 

Allah berfirman,

يا أيها الذين آمنوا لا تقدموا بين يدي الله ورسوله واتقوا الله إن الله سميع عليم

“Wahai orang-orang yang beriman janganlah kalian mendahului Allah dan Rosul-Nya, bertaqwalah kalian kepada Allah, karena sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Al-Hujurot: 1) 

Al-Imam Al-Auza’i (157 H) berkata, “Wajib engkau berpegang dengan atsar sekalipun orang-orang menolakmu dan hati-hatilah engkau dari logika-logika orang meskipun mereka menghiasinya dengan berbagai omongan. Karena perkara agama ini telah sangat jelas dengan petunjuk Nabi ﷺ dan para shohabat dan bila engkau beragama di atas dasar itu maka engkau telah berjalan di atas shirothol mustaqim.” (Al-Adabus Syar’iyyah 2/70)

(5). Tidak Memperhatikan Adab.

Adab di sini mencakup adab seorang tholib terhadap dirinya, adab dalam mengikuti pelajaran, adab terhadap guru, adab terhadap kawan dan yang lainnya dari adab-adab ilmu.

Bermanfaatnya ilmu seseorang berbanding lurus dengan baiknya adab. Karenanya orang yang beradab terhadap ilmu menunjukkan dia menghargai ilmu sehingga dia pantas mendapatkan ilmunya.

Yusuf bin Al-Husain (304 H) berkata, "Dengan memelihara adab engkau akan mudah memahami ilmu." (Iqtidho'ul 'Ilmi hal. 31)

Al-Imam Al-Qorofi Al-Maliki (684 H) berkata, “Sedikit adab lebih baik daripada banyaknya amal. Ruwaiyim menasihati puteranya, “Wahai anakku, jadikanlah amalmu ibarat garam sedangkan adabmu ibarat tepung. Perbanyaklah adab hingga perbandingan banyaknya seperti perbandingan tepung dan garam dalam sebuah adonan. Banyak adab meski sedikit amal masih jauh lebih baik ketimbang banyak amal namun kurang adab.” (Al-Furuq 4/272)

Fikri Abul Hasan

Menjernihkan Kalimat Tauhid

Ada dua golongan yang disebutkan para ulama yang mengucapkan kalimat tauhid "Laa Ilaaha Illallaah" tetapi tidak mengikhlaskan niatnya dalam beribadah kepada Allah:

(1). Munafiqun.

Mereka orang-orang munafiq yang mengucapkan kalimat tauhid dengan lisan-lisan mereka namun hati mereka kosong dari meyakininya.

(2). Quburiyyun.

Mereka orang-orang yang mengkeramatkan kuburan. Mereka mengucapkan kalimat tauhid dengan lisan-lisannya tetapi tidak mengamalkan kandungannya sehingga mereka menghamba kepada orang yang sudah mati. 

(Fat-hul Waliyyil Hamid hlm. 12)

Maka kalimat tauhid adalah bentuk ikrar seorang hamba bahwa tidak ada satu pihak pun yang berhak diibadahi atau diberikan penghambaan selain Allah.

Namun, kalimat yang agung ini tidak akan berguna bila yang mengucapkannya tidak mengikhlaskan niatnya karena Allah sehingga keyakinannya dan ibadahnya murni hanya untuk Allah semata.

Fikri Abul Hasan

Jujurnya Niat Menyampaikan Tujuan

Kepada saudara-saudaraku kaum muslimin yang sudah terjadwal haji tetapi Allah taqdirkan ditunda keberangkatannya tahun ini, maka bergembiralah bahwa jujurnya niat lebih menyampaikan kepada tujuan daripada amalan.

Anas bin Malik rodhiyallahu 'anhu, “Kami pulang bersama Nabi ﷺ dari perang Tabuk lalu beliau berkata:

إن أقواما خلفنا بالمدينة ما سلكنا شعبا ولا واديا إلا وهم معنا حبسهم العذر

"Sesungguhnya ada beberapa orang yang tertinggal di Madinah yang tidaklah kita berjalan melalui celah bukit dan lembah kecuali mereka juga ikut bersama kita lantaran mereka tercegah oleh udzur yang menghalangi mereka." (HR. Al-Bukhori 2684)

Hadits ini dijelaskan oleh para ulama antara lain Syaikh Al-'Allamah bin Baz rohmatullah 'alaih,

"Niat mereka ingin sekali bergabung bersama kita akan tetapi mereka tercegah oleh udzur yang menghalangi mereka yaitu sakit. Maka orang yang tertahan dari jihad, begitupula tertahan dari sholat jamaah di masjid karena adanya udzur syar'i, dia tetap memperoleh pahala jihad dan pahala sholat dengan sempurna lantaran niatnya yang jujur." 

(Audio "Syarh Riyadhussholihin" via binbaz)

Semoga Allah memudahkan urusan kaum muslimin dan memberi hidayah tawfiq kepada para pemimpin, aamiin.

Fikri Abul Hasan

Senin, 22 Februari 2021

Jangan Keliru Memohon Syafaat

Syafaat Nabi ﷺ pada hari kiamat adalah ketetapan yang disebutkan dalam banyak hadits-hadits shohih dan hal ini telah disepakati oleh para ulama. Tidak ada yang mengingkarinya kecuali ahli bid'ah.

Namun perlu kita ketahui, bahwa memohon syafaat hanya ditujukan kepada Allah semata karena semua syafaat hanya milik Allah ta'ala yaitu dengan berdoa:

اللهم شفع فينا نبيك

(Alloohumma syaffi' fiinaa nabiyyak) “Ya Allah terimalah syafaat Nabi-Mu untuk kami.”

Hanya Allah semata yang membukakan dan mengilhamkan Nabi-Nya ﷺ sehingga beliau memberi syafaat kepada siapa saja yang Allah kehendaki.

Maka syafaat itu akan diperoleh apabila terpenuhi syarat-syaratnya. Para ulama menyebutkan yaitu Allah mengizinkan pemberi syafaat dan meridhoi orang yang diberi syafaat. 

Dalilnya firman Allah ta'ala, “Tiada yang dapat memberi syafaat di sisi Allah kecuali dengan izin-Nya.” (Al-Baqoroh: 255)

Allah juga berfirman, “Dan betapa banyak para Malaikat di langit yang syafaat mereka tidak berguna sedikitpun, kecuali setelah Allah mengizinkan bagi orang yang Dia kehendaki dan Dia ridhoi.” (An-Najm: 26)

Adapun memohon syafaat kepada Nabi ﷺ setelah beliau wafat maka para ulama mengatakan ini perbuatan syirik besar. Seperti yang diucapkan sebagian orang seraya berdoa, "Wahai Rosulullah ﷺ berikanlah syafaatmu kepadaku di hari kiamat".

Allah ta'ala telah mengingatkan, 

أم اتخذوا من دون الله شفعاء قل أولو كانوا لا يملكون شيئا ولا يعقلون قل لله الشفاعة جميعا 

"Bahkan mereka mengambil pemberi syafaat selain Allah. Katakanlah, "Dan apakah (kamu mengambilnya juga) meskipun mereka tidak memiliki sesuatu pun dan tidak berakal? Katakanlah, hanya milik Allah syafaat itu semuanya." (Az-Zumar: 43-44)

Fikri Abul Hasan

Jumat, 12 Februari 2021

Hadits Qudsi & Perbedaannya dengan Al-Qur'an

Qudsi secara bahasa dinisbatkan kepada "quds" yang berarti suci yaitu menisbatkan pengagungan dan pemuliaan kepada dzat Allah yang Mahasuci.

Sedangkan menurut istilah hadits qudsi adalah apa yang disandarkan oleh Nabi ﷺ dari perkataan-perkataan beliau kepada Allah.

Contohnya diriwayatkan Imam Muslim dalam shohihnya dari Abu Dzar dari Nabi ﷺ bahwa Allah berfirman, "Wahai hamba-Ku, sesungguhnya Aku telah mengharomkan perbuatan zalim pada diriku dan Aku haromkan pula pada kalian, maka janganlah saling menzalimi di antara kalian."

Perbedaan Hadits Qudsi dengan Al-Qur'an

(1). Al-Qur'an lafal dan maknanya dari Allah, sedangkan hadits qudsi maknanya dari Allah dan lafalnya dari Nabi ﷺ.

(2). Membaca huruf Al-Qur'an tergolong ibadah dan mendapat pahala, sedangkan membaca hadits qudsi tidak demikian.

(3). Disyaratkan mutawatir dalam periwayatan Al-Qur'an, sedangkan hadits qudsi tidak disyaratkan.

Perbedaan Hadits Qudsi dengan Hadits Nabawi

Hadits Nabi ﷺ dinisbatkan kepada Rosulullah ﷺ sedangkan hadits qudsi dinisbatkan kepada Allah kemudian Rosulullah ﷺ yang meriwayatkannya dari Allah. Sebab itu diikat dengan sebutan qudsi. 

Hadits qudsi jumlahnya tidak banyak. Kitab yang paling masyhur mengumpulkan hadits qudsi adalah "Al-It-hafat As-Saniyyah bil Ahadits Al-Qudsiyyah" karya Al-Imam Abdurrouf Al-Munawi (1031 H) berjumlah 272 hadits. (Mabahits Fi 'Ulumil Hadits hal. 12)

Fikri Abul Hasan

Shohabat Paling Banyak Meriwayatkan Hadits

Di antara shohabat yang paling banyak meriwayatkan hadits Rosulillah ﷺ adalah Abu Huroiroh, Abdullah bin Umar, Anas bin Malik, Aisyah Ummul Mukminin, Abdullah bin Abbas, Jabir bin Abdillah, Abu Sa'id Al-Khudri. (Mabahits Fi 'Ulumil Hadits hal. 59)

Para ulama mencatat:

1. Abu Huroiroh meriwayatkan 5374 hadits.

2. Abdullah bin Umar meriwayatkan 2630 hadits.

3. Anas bin Malik meriwayatkan 2286 hadits.

4. Aisyah meriwayatkan 2210 hadits.

5. Abdullah bin Abbas meriwayatkan 1660 hadits.

6. Jabir bin Abdillah meriwayatkan 1540 hadits.

7. Abu Sa'id Al-Khudri meriwayatkan 1170 hadits.

Fikri Abul Hasan

Senin, 08 Februari 2021

"Ad-Dahru" Bukan Nama Allah

Dari Abu Huroiroh bahwa Rosulullah ﷺ bersabda:

قال الله تعالى يؤذيني ابن آدم يسب الدهر وأنا الدهر بيدي الأمر أقلب الليل والنهار

"Allah ta'ala berfirman, "Anak Adam menisbatkan sesuatu yang tidak pantas kepada-Ku; karena dia mencela Ad-Dahru (masa), padahal Akulah Ad-Dahru, seluruh urusan di Tangan-Ku, Akulah yang membolak-balikkan siang dan malam." (HR. Al-Bukhori 7491 dan Muslim 2246)

Hadits ini tidak menunjukkan Ad-Dahru nama Allah. Karena Allah yang menciptakan Ad-Dahru (masa) dan peristiwa yang berlangsung padanya sebagaimana yang disebutkan dalam kalimat setelahnya, "Seluruh urusan di Tangan-Ku, Akulah yang membolak-balikkan siang dan malam".

Tidak mungkin Dzat yang mengatur dalam perkataan, "Akulah Ad-Dahru", menjadi Dzat yang diatur pada perkataan setelahnya yaitu siang dan malam. Maka Ad-Dahru dalam hadits ini bukanlah Allah karena Allah yang mengatur masa. (Al-Qowa'idul Mutsla hal. 12)

Fikri Abul Hasan

Selesai Haid Tidak Bisa Mandi?

Assalaamu'alaykum wa rahmatullaahi wa barakaatuhu.. Ustadz, jika seseorang selesai dari haid, tidak sanggup mandi wajib karena sakit (demam & meriang), bolehkah berwudhu saja kemudian sholat?

Jawab: Wa'alaikumussalam warohmatullah wabarokatuh. Islam datang membawa syariat yang mudah, setiap kali ada kesulitan untuk menjalankan perintah maka di sana ada keringanan. Allah mengingatkan:

يريد الله بكم اليسر ولا يريد بكم العسر 

"Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki bagimu kesukaran." (Al-Baqoroh: 185)

Seorang wanita apabila telah suci dari haid sedang tidak memungkinkan baginya mandi disebabkan adanya udzur seperti sakit atau tidak adanya air atau cuaca yang sangat dingin atau khawatir membahayakan, maka cukup baginya bertayammum sebagai pengganti mandi.

Tayammum yaitu bersuci dengan menepukkan kedua telapak tangan ke debu atau tanah dengan sekali tepukan lalu mengusapkannya ke wajah dan kedua punggung telapak tangan atau boleh juga sebaliknya. (Al-'Uddah 1/54)

Syariat telah menjadikan tayammum sebagai pengganti wudhu dan mandi bilamana tidak ada air atau ada udzur lain. Allah berfirman:

وإن كنتم مرضى أو على سفر أو جاء أحد منكم من الغائط أو لامستم النساء فلم تجدوا ماء فتيمموا صعيدا طيبا فامسحوا بوجوهكم وأيديكم منه 

“Dan apabila kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air atau "menyentuh" perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih); usaplah wajahmu dan tanganmu dengan tanah itu." (Al-Ma'idah: 6)

Dan apabila sudah memungkinkan baginya menggunakan air maka dia harus segera mandi sebagaimana yang dijelaskan oleh para ulama.

Fikri Abul Hasan

Lebih Baik Cabut Bulu Ketek

Al-A'masy (148 H) mendengar seseorang (tukang cerita) berkata dengan menyebutkan sanad:

عن الأعمش عن أبي إسحاق عن أبي وائل ,فتوسط الأعمش الحلقة وجعل ينتف شعر إبطه فقال له القاص :

“Dari Al-A’masy, dari Abu Is-haq, dari Abu Wa'il..." lalu Al-A’masy langsung beralih ke tengah halaqoh sembari mencabut bulu keteknya. Sontak si tukang cerita menegurnya:

يا شيخ ؟ ألا تستحي ؟ نحن في علم وأنت تفعل مثل هذا ؟! فقال الأعمش : الذي أنا فيه خير من الذي أنت فيه قال : كيف ذلك ؟ قال :لأني في سنة وأنت في كذب أنا الأعمش ! وما حدثتك مما تقول

“Wahai Syaikh? tidakkah engkau malu? Kita dalam pengajian engkau malah berbuat seperti itu?!” Maka Al-A’masy berkata, “Apa yang aku lakukan ini lebih baik ketimbang apa yang engkau perbuat.” Orang itu berkata, “Bagaimana bisa begitu?” Al-A’masy berkata, “Aku sedang mengamalkan sunnah, sedangkan engkau sedang berdusta! Aku adalah Al-A’masy! Aku tidak pernah menceritakan kepadamu seperti itu!

فلما سمع الناس ما ذكر الأعمش؛ انفضوا عن القاص واجتمعوا حوله وقالوا: حدثنا يا أبا محمد

Ketika para hadirin mendengar hal itu, maka mereka meninggalkan tukang cerita tersebut dan berkumpul di sekitar Al-A’masy, mereka berkata, “Ceritakanlah kepada kami wahai Abu Muhammad (Al-A'masy).” (Al-Hawadits wal Bida’ hal. 111-112)

Fikri Abul Hasan

Nama-Nama Allah Jumlahnya Tidak Terbatas

Kaidah "asma'ullah ghoiru mahshuroh" (nama-nama Allah tidak terbatas) berdasarkan sabda Nabi ﷺ dalam hadits yang masyhur:

أسألك بكل اسم هو لك سميت به نفسك أو علمته أحدا من خلقك أو أنزلته في كتابك أو استأثرت به في علم الغيب عندك  

"Aku memohon kepada Engkau dengan seluruh nama yang menjadi nama-Mu yang Engkau namai diri-Mu dengannya, atau yang Engkau ajarkan kepada seseorang dari makhluk-Mu, atau yang Engkau turunkan di dalam kitab-Mu, atau yang Engkau rahasiakan dalam ilmu ghoib di sisi-Mu." (HR. Ahmad 3712 dishohihkan Al-'Allamah Ahmad Syakir dan Syaikh Nashir)

Tidak ada seorang pun yang mengetahui apa yang menjadi rahasia Allah dalam ilmu ghoib di sisi-Nya. Ini menunjukkan nama-nama Allah tidak terbatas.

Sedangkan sabda Nabi ﷺ dari Abu Huroiroh:

إن لله تسعة وتسعين اسما مائة إلا واحد من أحصاها دخل الجنة

"Sesungguhnya Allah memiliki 99 nama seratus kurang satu. Barangsiapa yang menghafalnya dan memahami maknanya, niscaya dia masuk surga." (HR. Al-Bukhori 6410 dan Muslim 2677)

Hadits ini sama sekali tidak menunjukkan pembatasan nama-nama Allah berjumlah 99. Andaikata yang dimaksudkan itu pembatasan, tentu redaksi haditsnya berbunyi seperti ini:

إن أسماء الله تسعة وتسعون اسما

"Sesungguhnya nama-nama Allah itu hanya ada 99.."

Sebagaimana seseorang mengatakan, "Saya punya seratus dirham yang saya siapkan untuk bersedekah". Kalimat ini tidak menutup kemungkinan dia masih memiliki dirham-dirham yang lain.

Adapun hadits-hadits yang menyatakan pembatasan nama-nama Allah seluruhnya dho'if. Tidak ada hadits shohih yang membatasi berapa jumlah nama-nama Allah.  (Al-Qowa'idul Mutsla hal. 17)

Fikri Abul Hasan

Perbedaan Ayat Makkiyyah & Madaniyyah

Ayat-ayat Al-Qur'an turun kepada Nabi ﷺ secara berangsur selama 23 tahun dan mayoritasnya turun di Makkah. 

Ditinjau dari turunnya Al-Qur'an, para ulama membagi ayat menjadi dua kategori yaitu makkiyyah dan madaniyyah. Makkiyyah adalah ayat yang turun kepada Nabi ﷺ sebelum hijroh ke Madinah. Sedangkan madaniyyah ayat yang turun kepada beliau ﷺ pasca hijroh ke Madinah.

Ayat-ayat makkiyyah dan madaniyyah memiliki karakter yang berbeda dari segi uslub (gaya bahasa):

(1). Umumnya ayat-ayat makkiyyah memiliki uslub yang kuat dan ungkapan yang tegas, karena yang diajak bicara orang-orang yang sombong dan para pembangkang. Contohnya surat Al-Qomar dan Al-Muddatstsir.

Adapun ayat-ayat madaniyyah menggunakan uslub yang lembut dan ungkapan yang mudah, karena yang diajak bicara orang-orang yang sudah menerima Islam dan tunduk kepadanya. Contohnya surat Al-Ma'idah.

(2). Ayat-ayat makkiyyah umumnya pendek-pendek dan hujjahnya kuat argumentatif. Adapun ayat-ayat madaniyyah umumnya panjang-panjang dan berbicara seputar hukum yang tidak memerlukan hujjah karena sesuai dengan kondisi mereka. (Ushul Fit Tafsir hal. 15-16)

Fikri Abul Hasan

Rabu, 03 Februari 2021

Siapakah yang Dimaksud Ahli Bid'ah?

Assalamu'alaikum ustadz, saya sering mendengar istilah ahli bid'ah dalam kajian tapi masih abu-abu. Tolong dijelaskan dengan sederhana siapa sebetulnya yang dimaksud ahli bid'ah?

Jawab: Wa'alaikumussalam warohmatullah wabarokatuh. Ahli bid'ah adalah orang yang menyelisihi manhaj atau prinsip Ahlussunnah utamanya dalam perkara aqidah. 

Ahli bid'ah juga disebut "shohib hawa" karena lebih mengedepankan hawa nafsu akalnya, hawa nafsu perasaannya, hawa nafsu masyarakatnya dalam beragama daripada mengikuti sunnah (petunjuk) Nabi ﷺ.

Akan tetapi, perlu diingat, tidak setiap orang yang terjatuh dalam bid'ah langsung dicap ahli bid'ah, apalagi dalam masalah furu' yang masih diperselisihkan para ulama seperti qunut shubuh misalnya.

Seseorang dikatakan ahli bid'ah apabila hujjah telah tegak atas dirinya sedang dia tetap bersikukuh di atas kebid'ahannya. Ini yang dimaksud ahli bid'ah menurut para ulama.

Syaikh Al-'Allamah Abdul Aziz bin Baz berkata,

فالذي يصر على الاحتفال بالمولد أو بالموالد الأخرى يسمى مبتدع حتى يتوب والذي يصر على البناء على القبور والصلاة عند القبور أو بناء المساجد عليها أو قراءة الكتب عليها يسمى مبتدع

"Orang yang terus-menerus merayakan maulid Nabi atau maulid-maulid yang lain maka dia disebut ahli bid'ah sampai dia bertaubat kepada Allah. Orang yang terus-menerus membikin bangunan di atas kuburan, sholat di sisi kuburan, membangun masjid di atasnya, membaca kitab-kitab di atas kuburan maka dia disebut ahli bid'ah..." (Via binbaz.org.sa/noor/1838)

Namun, para ulama membedakan sikap terhadap ahli bid'ah dan terhadap para pengikutnya yang terjerumus dalam kebid'ahan.

Hal ini disampaikan oleh Syaikh Al-'Allamah Robi' bin Hadi Al-Madkholi, beliau mengatakan,

"Tidak setiap orang yang berbuat bid'ah diisolir, mereka medan dakwah kita dan kita berusaha mengajak mereka kembali ke jalan Allah dengan cara yang hikmah dan nasihat yang baik. Adapun para dainya yang mengajak manusia kepada kebatilan melalui buku-buku, majalah, rekaman, ceramah, maupun media sosial, maka kita membantah mereka dan memperingatkan manusia dari bahaya penyimpangan mereka, tidak duduk bersama mereka, tidak pula mengambil faidah dari mereka." (Majmu'ah Kutub wa Rosa'il 2/351)

Beliau juga menyebutkan kelompok-kelompok ahli bid'ah secara lebih spesifik agar kaum muslimin tidak terpengaruh oleh pemikiran mereka,

"Ahli bid'ah itu seperti Syiah Rofidhoh, Khowarij, Jahmiyyah, Qodariyyah, Mu'tazilah, Shufiyyah, Quburiyyah, Murjiah dan yang mengikuti manhaj mereka seperti Ikhwanul Muslimin, Jamaah Tabligh, dan kelompok-kelompok semisalnya." (Al-Mauqifus Shohih min Ahlil Bida' hal. 27)

Para salaf senantiasa memperingatkan manusia dari bahaya bid'ah dan ahli bid'ah, karena mereka racun yang membinasakan, merusak manhaj dan aqidah, jembatan menuju kesyirikan dan kekufuran, dan menghalangi orang dari mutaba'ah. Dan bid'ah itu dikatakan para ulama lebih disukai iblis daripada maksiat.

Berikut nasihat dan peringatan para salaf dari bahaya duduk-duduk di majelis ahli bid'ah dan bergaul dengan mereka:

Ibnu Abbas berkata,

لا تجالس أهل الأهواء فإن مجالستهم ممرضة للقلوب

"Janganlah engkau duduk-duduk bersama para pengekor hawa nafsu (ahli bid'ah) karena duduk bersama mereka akan menjadikan hatimu berpenyakit." (Riwayat Al-Ajurri dalam "Asy-Syari’ah" 1/453)

Sa'id bin Jubair berkata,

لأن يصحب ابني فاسقا شاطرا سنيا أحب إلى من أن يصحب عابدا مبتدعا

"Anakku bersahabat dengan orang yang fasiq buruk akhlaq tetapi dia Ahlussunnah itu masih lebih aku sukai daripada bersahabat dengan ahli ibadah tetapi dia ahli bid'ah." (Al-Ibanatus Shughro nomor 89)

Al-Fudhoil bin Iyadh berkata, 

“Siapa yang duduk dengan ahli bid’ah maka berhati-hatilah darinya dan siapa yang duduk dengan ahli bid’ah tidak akan diberi hikmah. Dan aku ingin jika saja antara diriku dan ahli bid’ah ada benteng besi yang memisahkan. Sungguh aku makan di sebelah orang Yahudi dan Nashroni masih lebih aku sukai daripada aku makan di sebelah ahli bid’ah.” (Syarh Ushul I'tiqod Ahlissunnah nomor 1149)

Beliau juga berkata, "Barangsiapa yang memuliakan ahli bid'ah maka sungguh dia sedang bahu-membahu merobohkan Islam." (Al-Ibanatus Shughro nomor 187)

Dan masih banyak lagi nasihat dan peringatan keras dari para salaf yang semua itu menunjukkan kepedulian mereka terhadap aqidah kaum muslimin. 

Kendati demikian, ahli bid'ah yang masih memiliki hak sebagai seorang muslim maka dipelihara hak-haknya dalam bermuamalah. Namun, bid'ahnya tetap dibantah dan manusia diperingatkan darinya, wa billaahit tawfiq.

Fikri Abul Hasan

Benarkah Syaikh Al-Albani Bukan Ahli Hadits?

Assalamu'alaikum, ustadz mohon penjelasan dari tulisan di bawah ini barokallahu fik:

Al-Albani tidak mempelajari hadis dari para ahlinya ini dibuktikan dalam kitab-kitab biografi tentang Al-Albani yang ditulis oleh para pengikutnya seperti "Hayatu al-Albani" karya Asy-Syaibani, "Tsabat Muallafat al-Albani" karya Abdullah bin Muhammad Asy-Syamrani dan sebagainya.

Pada umumnya tatkala kita membuka kitab-kitab biografi para ulama, di depan mukaddimah terdapat sejarah tentang perjalanan menuntut ilmu dan para gurunya. Namun hal ini tidak terjadi dalam buku-buku biografi Al-Albani justru yang disebutkan oleh pengikutnya adalah untaian kalimat miris berikut ini:

عرف الشيخ الألباني رحمه الله بقلة شيوخه وبقلة إجازاته فكيف استطاع أن يلم بالعلوم ولا سيما علم الحديث  ولا علم الجرح والتعديل علىصعوبته؟

"Syaikh Albani dikenal dengan sedikitnya guru dan minimnya ijazah dalam hadis. Maka bagaimana ia mampu memperdalam ilmu-ilmu, apalagi ilmu hadis dan ilmu tentang metode memberi penialaian cacat dan adil yang sangat sulit?" (Tsabat Muallafat Al-Albani karya Abdullah bin Muhammad asy-Syamrani, 7)

Ini adalah sebuah pengakuan dan pertanyaan yang tak pernah dijawab oleh muridnya sendiri?!

Jawab: Wa'alaikumussalam warohmatullah wabarokatuh. Penulis syubhat di atas berusaha menggiring para pembaca dengan cara yang tidak jujur dan jauh dari amanah ilmiyah.

Referensi yang dilansir oleh penulis seperti risalah "Hayatu Al-Albani" sebetulnya berisi pembelaan dan pengakuan para ulama kepada Syaikh Al-'Allamah Al-Albani terkait kepakaran beliau dalam ilmu hadits.

Antara lain seperti yang dinyatakan oleh Syaikh Al-'Allamah Abdul Aziz bin Baz seorang ulama mufti dunia. Beliau mengatakan:

ما رأيت تحت أديم السماء عالما بالحديث في العصر الحديث مثل العلامة محمد ناصر الدين الألباني

“Aku belum pernah melihat di kolong langit ini orang yang pakar dalam ilmu hadits di masa kini semisal Al-‘Allamah Muhammad Nashiruddin Al-Albani.”

Ucapan Syaikh bin Baz ini dinukil dalam "Hayatu Al-Albani" oleh Asy-Syaibani halaman 65.

Kemudian juga ketidakjujurannya dalam mengutip risalah, "Tsabat Mu'allafat Al-Albani" oleh Asy-Syamroni. Risalah ini juga berisi pengakuan para ulama dan pembelaannya kepada Syaikh Al-Albani. 

Adapun yang dikutip oleh penulis sebetulnya pertanyaan syubhat yang hendak dijawab di dalam risalah tersebut, bukan pernyataan seperti yang diframing oleh penulis.

Tampak sekali sembrononya kebencian penulis kepada Syaikh Al-Albani sehingga dirinya tidak mampu berlaku adil, tidak jujur dan tidak amanah dalam menukil.

Syaikh Al-'Allamah Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i, muhaddits Yaman, beliau pernah mengatakan, 

“Sungguh tidak ada (di zaman ini) yang menandingi Syaikh Al-Albani dalam ilmu hadits, sungguh Allah telah memberi manfaat yang besar terhadap ilmu beliau dan kitab-kitabnya. Orang-orang yang mencela Syaikh Al-Albani dan keilmuannya tiada lain mereka adalah ahli bid’ah pengekor hawa nafsu. Mereka sesungguhnya membenci Ahlussunnah dan ingin membuat orang lari dari sunnah.” (Iqomatul Burhan hal. 6-7)

Jika Anda ingin mengenal sejauh mana keahlian Syaikh Al-Albani dalam ilmu hadits, ada baiknya Anda telaah karya beliau yang berjudul, "Silsilah Al-Ahadits Ash-Shohihah" 11 jilid tebal dan "Silsilah Al-Ahadits Adh-Dho'ifah wal Maudhu'ah" 17 jilid tebal.

Di sana Anda akan mengetahui siapa sebetulnya sosok Syaikh Al-'Allamah Muhammad Nashiruddin Al-Albani seperti yang diakui oleh para ulama.

Fikri Abul Hasan

Mengenal Al-Qur'an

Secara bahasa Al-Qur'an bentuk dasar dari kata qoro'a yang bermakna tala (membaca) atau jama'a (menghimpun).

Dari pengertian itu, maka makna Al-Qur'an adalah sesuatu yang dibaca atau penghimpun karena mengumpulkan berita dan hukum.

Sedangkan menurut istilah, Al-Qur’an adalah kalamullah (firman Allah) yang diturunkan kepada Rosul-Nya, penutup para Nabi yaitu Nabi Muhammad ﷺ, diawali dengan surat Al-Fatihah dan ditutup dengan surat An-Nas. Allah berfirman:

إنا نحن نزلنا عليك القرآن تنزيلا

"Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur'an kepadamu (Muhammad) secara berangsur-angsur." (Al-Insan: 23)

Faidah kitab "Ushul Fit Tafsir" hal. 6

Fikri Abul Hasan

Pentingnya Hikmah dalam Berdakwah

Syaikhul Islam Muhammad bin Abdil Wahhab (yang acapkali dilabeli Wahhabi oleh sebagian orang) dalam perjalanan safarnya ke Makkah, beliau melihat ada salah seorang alim dari ulama Makkah yang beliau merasa takjub dengan ilmu yang disampaikan di majelisnya.

Ulama ini, seusai mengisi pelajaran, beliau bangkit dari tempat duduknya sembari berkata, "Yaa Ka'batallah..!" (wahai Ka'bah Allah dimaksudkan memohon kepada Ka'bah).

Hal itu dianggap bukan masalah sepele oleh Syaikh Muhammad, lantaran perkataannya itu termasuk ucapan syirik sedang ulama tersebut tidak menyadarinya.

Maka Syaikh Muhammad berupaya untuk mengingatkannya dengan cara yang tenang dan hikmah. Beliau mendatangi ulama tersebut dan sebelumnya beliau mengakui keilmuannya dan mengucapkan jazaakallah kher. 

Lalu beliau berkeinginan membacakan hafalan surat-surat kepada ulama tersebut dan ulama itu pun menyambutnya. Tibalah beliau membaca surat Quraisy yang semestinya dibaca, "Fal ya'buduu robba haadzal bait.." (maka hendaklah mereka menghamba kepada Robbnya Ka'bah ini), tetapi beliau sengaja membacanya dengan, "Fal ya'buduu haadzal bait.." (maka hendaklah mereka menghamba kepada Ka'bah ini).

Mendengar kesalahan bacaannya itu, si ulama memperbaikinya dengan mengajari bacaan yang benar, "Fal ya'buduu robba haadzal bait.." (maka hendaklah mereka menghamba kepada Robbnya Ka'bah ini), sembari menegaskan ibadah itu hanya untuk Allah bukan untuk Ka'bah.

Syaikh Muhammad berkata, "Aku membaca seperti itu karena aku mempelajarinya dari engkau wahai Syaikh, aku mendengar engkau bangkit dari tempat dudukmu mengucapkan, "Yaa Ka'batallah..!"

Maka ulama tersebut meralat ucapannya dan mendoakan kebaikan bagi Syaikh Muhammad, "Fatahallahu 'alaik wa jazaakallah kher". (Syarh Al-Kafiyah 4/410 dengan sedikit penyesuaian)

Faidah yang dapat kita ambil dari kisah ini bahwa siapa saja yang menginginkan kebaikan orang lain hendaklah dia menempuh sikap hikmah sekalipun terhadap orang yang bersebrangan dengannya.

Adakalanya seseorang itu terjatuh dalam kesalahan karena dia tidak menyadarinya atau karena kelemahannya, bukan karena sengaja-sengaja menentang Allah dan Rosul-Nya ﷺ.

Fikri Abul Hasan

Batasan Tasyabbuh Bil Kuffar

Ada batasan-batasan yang disebutkan oleh para ulama terkait tasyabbuh bil kuffar (menyerupai orang kafir):

(1). Meniru hal-hal yang menjadi ciri khas orang kafir baik menyangkut agama mereka maupun kebiasaan mereka maka ini termasuk tasyabbuh meski tidak bermaksud menyerupai mereka.

(2). Menyelisihi orang kafir baik asal perbuatannya maupun cara yang dilakukannya. Contoh perbuatan yang berasal dari orang kafir seperti perayaan ulang tahun, perayaan tahun baru, perayaan hari ibu, perayaan valentine. Kaum muslimin tidak diperbolehkan melakukan hal tersebut karena termasuk tasyabbuh.

Cara-cara orang kafir contohnya seperti orang-orang Yahudi dan Nashoro berpuasa tanpa makan sahur maka Rosulullah ﷺ menyelisihi cara mereka dengan mensyariatkan makan sahur.

(3). Meniru produk orang kafir, industri mereka, perdagangan mereka, makanan dan minuman mereka, pakaian mereka atau hal-hal menyangkut urusan dunia selama itu bukan ciri khas mereka dan tidak melanggar syariat maka itu tidak terlarang.

Perkara ini penting untuk diketahui oleh setiap muslim karena syariat Islam dibangun di atas penyelisihan terhadap agama-agama lain serta kebiasaan yang menjadi ciri khas mereka.

Dari Ibnu Umar, Rosulullah ﷺ bersabda:

من تشبه بقوم فهو منهم

"Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka dia termasuk dari kaum itu." (HR. Ahmad dan Abu Dawud Syaikh Nashir berkata "Hasan Shohih" dalam "Shohih Abi Dawud" 3401)

Fikri Abul Hasan

Dua Kelompok Perusak Dakwah

Dihikayatkan dari sebagian ulama:

ﺇﻥ ﻟﻠﺸﻴﻄﺎﻥ ﻣﻊ ﺑﻨﻲ ﺍﻹﻧﺴﺎﻥ ﻭﺍﺩﻳﺎﻥ ﻻ ﻳﺒﺎﻟﻲ ﻓﻲ ﺃﻳﻬﻤﺎ ﻫﻠﻚ ﻭﺍﺩ ﻣﻦ ﺍﻟﻐﻠﻮ ﻭ ﻭﺍﺩ ﻣﻦ ﺍﻟﺘﻘﺼﻴﺮ

“Syaithon memiliki dua lembah yang dihadapkan kepada anak manusia. Dia tidak peduli di lembah mana manusia akan binasa. Yaitu lembah al-ghuluw (melampaui batas), dan lembah at-taqshir (bermudah-mudahan)."

Melampaui batas dalam beragama maupun bermudah-mudahan, keduanya perbuatan yang membuka pintu fitnah dan menjatuhkan wibawa dakwah.

Syaikh Al-'Allamah Robi' bin Hadi Al-Madkholi menasihatkan:

واعلموا أن الذين جندوا الحرب الدعوة السلفية صنفان من الناس

"Ketahuilah, bahwa orang-orang yang mengerahkan perlawanan terhadap dakwah Salafiyyah ini ada dua model:

صنف يميع هذا الدين ، فتراه يماشي الخرافيين وأهل البدعة والأحزاب والعلمانيين وغيرهم ويريدك أن تغض الطرف عن البدع والضلالات 

Pertama, kelompok yang bersikap lembek bermudah-mudahan dalam beragama. Maka engkau akan melihat mereka berjalan bersama khurofiyyin (pengandrung khurofat), ahlul bid'ah, hizbiyyin, orang-orang sekuler, dan selainnya. Mereka ingin supaya engkau menutup mata dari bid'ah-bid'ah maupun kesesatan.

وصنف آخر متعنت متشدد متزمت وكلهم كذابون ، لا يريدون إلا الإضرار بالدعوة السلفية وأهلها ، فعليكم بالوسط والإعتدال والجد في تحصيل العلم ، والجد والاستماته في نشر هذه الدعوة بالحكمة والموعظة الحسنة والأخلاق العالية 

Kedua, kelompok yang bersikap ekstrim, keras dan kaku, mereka semua adalah para pendusta. Mereka hendak merusak dakwah Salafiyyah dan orang-orang yang mengikutinya. Maka wajib atas kalian untuk mengambil sikap pertengahan dan berlaku adil, senantiasa bersungguh-sungguh dalam meraih ilmu, bersungguh-sungguh dan berkorban dalam menyebarkan dakwah dengan cara yang hikmah, nasihat yang baik, serta akhlaq yang mulia." (Al-Lubab Min Majmu' Nasho'ih wa Tawjihat Asy-Syaikh Robi' Lisy Syabab hal. 133)

Fikri Abul Hasan

Tiga Pilar Kebaikan: Ilmu, Pemahaman, Tadabbur

Ali bin Abi Tholib rodhiyallahu 'anhu berkata:

لا خير في عبادة لا علم فيها ولا خير في علم لا فهم فيه ولا خير في قراءة لا تدبر فيها

"Tidak ada kebaikan dalam ibadah yang tidak dilandasi ilmu, tidak ada kebaikan pada ilmu yang tidak ditopang dengan pemahaman, tidak ada kebaikan dalam membaca Al-Qur'an yang tidak disertai tadabbur." (Shifatus Shofwah hal. 325)

Ilmu adalah pokok dari segala sesuatu. Ilmu akan menyelamatkan seseorang dari sikap ikut-ikutan dalam beragama. Umar bin Abdil Aziz berkata, "Orang yang beribadah tanpa ilmu lebih banyak merusak daripada memperbaiki."

Ilmu tidak akan menyampaikan pemiliknya kepada tujuan bila tidak didukung oleh al-fahmu (pemahaman yang benar). Yaitu memahami firman Allah dan sabda Nabi ﷺ sesuai maksud syariat. Karenanya para ulama memperingatkan, "Banyak orang yang diberi ilmu namun tidak dianugerahi pemahaman."

Hakikat tilawah bukan sekedar membaca ayat demi ayat atau mempelajari tajwidnya. Akan tetapi mentadabburinya yaitu memahami ayat-ayat Qur'an sehingga dapat mengambil pelajaran darinya dan beramal dengannya. Inilah yang dimaksud firman Allah, "Mereka membacanya (Al-Qur'an) dengan bacaan yang sebenar-benarnya." (Al-Baqoroh: 121)

Fikri Abul Hasan

Masa-Masa Fitnah

Kalimat berikut sering dinisbatkan kepada Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan banyak disebarluaskan:

ليس كل من تحلى بالسنة صار سنيا ولكن الفرق عند الفتن تعرف الرجال والمعصوم من عصمه الله

"Tidaklah setiap orang yang berhias dengan sunnah lantas menjadi Ahlussunnah, tetapi yang membedakan manakala terjadinya banyak fitnah, di sana akan diketahui hakikat keadaan masing-masing orang. Sedangkan yang ma'shum adalah orang yang Allah menjaganya." (Majmu' Fatawa 9/315)

Setelah kami telusuri ke jilid dan halaman terkait redaksi tersebut tidak kami jumpai, wallahu a'lam. Terlepas dari keabsahan penisbatannya, ucapan tersebut patut menjadi ibroh.

Fikri Abul Hasan

Melihat Nabi ﷺ dalam Kondisi Sadar?

Ahsanallah ilaikum ustadz, apakah mungkin melihat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam secara langsung setelah beliau wafat seperti yang diakui sebagian orang? 

Jawab: Orang yang mengaku melihat Nabi ﷺ dalam kesadarannya hanya di antara dua kemungkinan. Kemungkinan pertama dia berdusta meski bersumpah atas nama Allah. Kemungkinan kedua yang mendatanginya adalah syaithon dari kalangan jin yang mengaku sebagai sosok Nabi ﷺ.

Syaithon memang tidak mampu menyerupai diri Nabi ﷺ, akan tetapi dia bisa berdusta mengaku sebagai Nabi untuk menyesatkan orang yang jauh dari aqidah yang benar. 

Pengakuan-pengakuan semacam itu telah diingkari oleh para ulama antara lain Al-Imam As-Sakhowi salah seorang ulama Syafiiyyah, beliau berkata:

لم يصل إلينا ذلك عن أحد من الصحابة ، ولا عن من بعدهم وقد اشتد حزن فاطمة عليه‏ صلى الله عليه وسلم حتى ماتت كمدا بعده بستة أشهر - على الصحيح- وبيتها مجاور لضريحه الشريف، ولم ينقل عنها رؤيته فى المدة التى تأخرت عنه

"Tidaklah sampai kepada kami pengakuan seperti itu dari seorangpun dari para shohabat Nabi, tidak pula dari orang-orang sepeninggal para shohabat. Sungguh dulu Fathimah telah dirundung duka lantaran wafatnya Nabi ﷺ sehingga Fathimah meninggal dunia karenanya setelah enam bulan menurut pendapat yang shohih. Sedangkan rumah Fathimah berdekatan dengan makam Nabi yang mulia, namun tidak ada riwayat yang menyebutkan Fathimah pernah melihat Nabi ﷺ selama itu dalam keadaan sadar." (Al-Mawahibul Laduniyah 5/295)

Fathimah adalah puteri beliau ﷺ, orang yang dicintai beliau dan jarak rumah beliau berdekatan dengan makam Nabi ﷺ,  tetapi tidak pernah Fathimah mengaku didatangi Nabi ﷺ. Padahal Fathimah orang yang lebih berhak dibanding orang lain di zaman ini.

Para ulama kontemporer juga mengingatkan:

وأما دعوى بعض الصوفية أنه يرى النبي صلى الله عليه وسلم يقظة فشيء لا أصل له ، بل هو باطل وإنما يرى صلى الله عليه وسلم يوم القيامة 

"Adapun pengakuan sebagian orang-orang Shufi yang mengaku melihat Nabi ﷺ dalam kondisi sadar maka itu perkara yang tidak ada asalnya sama sekali, bahkan itu jelas kebatilan, Nabi ﷺ hanyalah dapat dilihat secara langsung pada hari kiamat." (Fatwa Lajnah no. 5553 ketua Syaikh Al-'Allamah bin Baz)

Semoga Allah senantiasa membimbing kita kepada manhaj yang lurus dan aqidah yang benar di masa orang lebih mementingkan persatuan daripada bersihnya hati dari kesyirikan dan kekufuran.

Fikri Abul Hasan